Minggu, 20 Desember 2015


Inilah Yang Akan Terjadi dengan Facebook Kita Setelah kita Meninggal Nanti


Suatu peringatan sebenarnya bagi kita semua. Mari kita renungkan bersama Pikirkan bersama..
Jika suatu hari nanti kita mati, 

Akun facebook ini hanya kita yang tau passwordnya.. 
Hanya kita yang bisa acces.. … Dan.. 
Selepas kita meninggal Apa yang terjadi pada akun fb kita..??
Mungkin ada yang akan ucapkan takziah 
Mungkin ada yang selalu menjenguk bagi obat rindu 
Tetapi.. Sadarkah kita….?? 
Gambar-gambar kita.. Akan terus membuat kita tersiksa di Alam kubur.. 
Gambar2 yang tidak ditutupi auratnya dengan sempurna 
Bagaimana nanti…..?? 
Para lelaki terus menerus melihat. 
Dan kadang ada gambar kita yang di tag-kan ke teman2 kita Walaupun sudah bertahun-tahun kita mati, gambar itu terus ada SAHAM DOSA TERUS MENINGKAT… Bagaimana…?? Pernah berpikir tidak..?? 
Lengging dan jeans ketat, bisakah menyelamatkan kita…?? 
Baju yang tidak membalut aurat itu, bagaimana…?? 
mungkin kini kita masih merasa tak sabar ingin berbagi cerita 
Dengan gambar- gambar yang cantik 
Tempat-tempat yang sudah kita lewati di muka bumi-NYA. 
Tapi di akhirat nanti 
Semua itu tidak akan membawa arti 
Semua hanya tinggal kenangan bagi yang masih hidup.. 
Di alam kubur, semua itu tidak sedikitpun dapat menyelamatkan kita. 
Mari kita bersama- sama renungkan 
Saham dosa yang terus meningkat 
walau setelah ketiadaan kita di muka bumi Sampai kita di akhirat.

Tutupilah auratmu sebelum auratmu ditutupkan Peliharalah dirimu sebelum dirimu di kafankan Jagalah harga diri sebagai seorang muslim sejati.. Mati itu pasti.. Persiapkan diri untuk mati itu perlu.. ^.^ Semoga Allah SWT ridho dengan renungan ini.. Aamiin…

Ya Allah, janganlah engkau ambil aku serta setiap orang yang Mengucapkan 'Aamiin' terkecuali dalam keadaan Husnul khatimah..

Jumat, 27 November 2015



Kisah Alqomah dan Ibunya


Di masa kenabian Nabi Muhammad saw, dulu ada seorang lelaki bernama Alqomah. Dia seorang yang rajin dalam masalah ibadah shalat, puasa dan sedekah. Namun suatu waktu dia jatuh sakit yang teramat parah—tepatnya dalam keadaan sakaratul maut. Namun entah kenapa Alqomah yang taat itu kesulitan untuk melafalkan kalimah “La ilaaha illallah”. Hingga sang istri meminta tolong pada seseorang untuk menemui Rasulullah saw, untuk menyampaikan pesan tentang keadaan suaminya pada Rasulullah saw.
Nabi pun mengutus Bilal, Ali, Salman dan Ammar r.a untuk datang ke rumah Alqomah. Di sana mereka menyaksikan betapa Alqomah dalam keadaan yang memprihatikan. Mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin seorang yang taat pada Allah dan Rasulnya itu kesulitan dalam melafalkan kalimat “La ilaaha illallah”. Lidah Al-Qomah seperti terkunci ketika akan melafalkan kalimat itu.
Merasa khawatir mereka kini mengutus Bilal untuk menyampaikan apa yang mereka saksikan kepada Rasulullah.
Rasulullah pun bertanya, “Apakah Alqomah masih memiliki ayah dan ibu?”
“Ayahnya sudah meninggal. Tapi dia masih memiliki seorang ibu yang sudah renta,” jawab Bilal apa adanya.
“Baiklah, temuilah ibu Alqomah. Aku titip salam untuknya. Jika dia masih mampu berjalan dia bisa menghadapku, jika tidak bisa maka aku yang akan ke sana.” Rasulullah menitahkan itu pada Bilal.
Sebagaimana yang dikatakan Rasulullah, Bilal menyampaikan itu pada Ibu Alqomah tanpa menambah dan mengurangi.
“Lebih baik aku yang menemui Rasulullah,” ucap Ibu Alqomah.
Meski sedikitt tertatih-tatih dengan tongkat sebagai penyangga, Ibu Alqomah menemui Rasulullah. Dia mengulukkan salam dan langsung disambut Rasulullah.
“Jadi bisakan ibu menceritakan bagaimana keadaan Alqomah yang sebenarnya? Kenapa dia nampak kesulitan melafalkan kalimat “La ilaahs illallah’, padahal setahu saya dia seorang hamba yang rajin lagi taat.” Rasulullah meminta penjelasan.
“Karena aku murka padanya, Rasulullah.” Ibu Alqomah menjawab.
“Adakah alasan kenapa engkau sampai murka?”
“Karena Alqomah sudah menyakitiku. Dia lebih mengutamakan istri daripada ibunya. Dia benari mentangku demi menuruti keinginan istrinya.”
Rasululllah pun mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Bahwa yang mengunci lidah Alqomah hingga tidak bisa melafaklan kalimat “Laa ilaaha illallah” adalah karena murka dari ibunya sendiri.
Kemudian Rasulullah memanggil Bilal. Menyuruh Bilal untuk meengumpulakn kayu sebanyak-banyaknya untuk membakar tubuh Alqomah.
“Ya Rasululah, kenapa engkau mau membakar putraku di depan mataku? Bagaimana perasaanku nanti?” tanya Ibu Alqomah sedih. Yah, bagaimana pun seorang ibu mana bisa melihat putranya di bakar di depan matanya sendiri.
“Wahai Ibu Alqomah, sejatinya siska Alla nanti di akhirat akan lebih kejam. Segala amal yang dilakukannya selama ini tidak dapat diterima oleh Allah karena terhalang akan siksamu. Kebajikan yang dilakukan jadi tidak berguna dan tak bisa membantu selamat dari api neraka..” Rasulullah menjelaskan.
“Jika engkau ingin putramu selamat dari api neraka, engkau harus merelakan apa yang telah Alqomah lakukan.”
“Baiklah Rasulullah, aku akan memaafkan putraku. Aku sungguh tak sanggup mengetahui jika anakku akan masuk neraka karena diriku.” Ibu Alqomah berucap sungguh-sungguh.
Rasulullah lalu memerintahkan Bilal untuk mengecek keadaan Alqomah. Memastikan apakah Alqomah sudah bisa melafalkan kalimat “ Laa ilaaha Illallah’ atau belum. Karena jika sang ibu mengatakan semua itu hanya karena malu bukan dari hati maka apapun bisa terjadi.
Namun ternyata Ibu Alqomah sungguh tulus telah memaafkan putranya. Karena ketika Bilal sampai di pintu rumah Alqomah, dia mendengar Alqomah mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallah”.
Bilal lalu masuk dan memberitahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada keadaan bilal itu. Tentang lidah Alqomah yang terkunci tidak bisa mengucapkan kalimat syahadat karena mendapat murka dari ibunya. Bahwa segala amal yang dilakukan Alqomah tak dapat menolong karena murkanya seorang ibu pada anak.
Dan hari itu setelah ibunya memaafkan Alqomah, dia pun kembali kerahmatalullah. Dia lalu dimandikan, dikafani dan di shalatkan oleh Rasulullah.
Setelah dikuburkan Nabi Muhammad saw berkata :
“Wahai sahabat muhajirin dan anshar, siapa yang mengutamakan istrinya daripada ibunya maka ia terkena laknat Allah, Malaikat dan manusia semuanya, bahkan Allah tidak menerima dari padanya ibadah fardu dan sunatnya. Kecuali jika bertaubat benar-benar kepada Allah dan berbuat baik pada ibunya, dan minta kerelaannya, sebab ridha Allah dikaitkan dengan ridha ibu, dan murkanya Allah juga di dalam murka Allah.” 




Selasa, 14 April 2015

Mahasiswa Harus Berilmu Sebelum Bertindak



Mahasiswa Harus Berilmu Sebelum Bertindak



By. Mohammad nur siddiq keliwida.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kewajiban belajar agama bukan hanya bagi mahasiswa yang duduk di Jurusan Syari’ah atau yang belajar di Universitas Islamiyah. Mahasiswa teknik dan kedokteran serta mahasiswa mana pun punya kewajiban yang sama. Ada kadar wajib dari ilmu agama yang mesti setiap mahasiswa pelajari. Karena tidak adanya ilmu agama itulah yang menyebabkan mahasiswa banyak yang salah jalan dan salah langkah. Akhirnya ada yang asal berkoar, namun bagai tong kosong nyaring bunyinya dan ujung-ujungnya tidak mendatangkan maslahat malah mengundang petaka.
Dasari Segalanya dengan Ilmu
Seorang dokter misalnya tidak bisa mengobati pasien sembarangan, ia harus mendasarinya dengan ilmu. Jika ia nekad, maka bisa berujung kematian pada pasien. Begitu pula halnya dengan seorang muslim. Dalam beramal dan bertindak, ia harus mendasari segalanya dengan ilmu. Imam Syafi’i berkata,
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” (Dinukil dari Mughnil Muhtaj)
Ilmu tidaklah diperoleh tiba-tiba layaknya ilmu laduni yang diyakini kaum sufi. Namun ilmu itu diraih dengan belajar siang dan malam. Sebagaimana kata Ibnu Syihab Az Zuhri, seorang ulama di masa tabi’in, di mana beliau berkata,
من رام العلم جملة ذهب عنه جملة وإنّما العلم يطلب على مرّ الأيام واللّيالي
Siapa yang terburu-buru meraih ilmu dalam jumlah banyak sekaligus, maka akan hilang dalam jumlah banyak pula. Yang namanya ilmu dicari siang demi siang dan malam demi malam.” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab Al Jaami’)
Jika seseorang tidak mendasari tindakannya dengan ilmu, ujung-ujungnya hanya mendatangkan bencana. Sebagaimana kata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz,
مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada mendatangkan maslahat.” (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa Ibnu Taimiyah, 2: 382)
Ilmu yang Diprioritaskan
Tentu yang lebih diprioritaskan bagi setiap muslim untuk dipelajari adalah ilmu akidah dan tauhid. Karena kaum muslimin -bahkan banyak dari mereka- yang tidak mengetahui apa saja yang merusak akidah dan tauhidnya. Seperti akidahnya masih bercampur dengan pemahaman penolak atau penta’wil sifat. Ketika ditanyakan Allah di mana, jawabannya pun beraneka ragam. Padahal berbagai dalil sudah menyebutkan bahwa Allah itu menetap tinggi di atas ‘Arsy seperti ayat,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah. Yang beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy” (QS. Thoha : 5). Sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah itu berada di ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya. Dan sebagian mereka lagi mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini.
Imam Asy Syafi’i berkata, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya” (Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 165). Ini masalah besar tentang Allah, namun banyak yang keliru menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan bahwa Allah di mana-mana atau ada yang mengatakan bahwa Allah di dalam hati. Padahal ada perkataan keras dari Abu Hanifah, “Jika seseorang amengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.” Beliau mengatakan demikian setelah ada yang menyatakan bahwa ia tidak mengetahui di manakah Allah, di langit ataukah di bumi (Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 135-136).
Begitu pula sebagian mereka memahami bahwa sah-sah saja memberontak atau tidak taat pada penguasa apalagi penguasa yang berbuat maksiat semacam korupsi. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).
Dalam Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan mengenai hadits di atas,
فتبين أن الإمام الذي يطاع هو من كان له سلطان سواء كان عادلا أو ظالما
“Jelaslah dari hadits tersebut, penguasa yang wajib ditaati adalah yang memiliki sulthon (kekuasaan), baik penguasa tersebut adalah penguasa yang baik atau pun zholim”
Imam Nawawi rahimahullah juga berkata,
وَأَمَّا الْخُرُوج عَلَيْهِمْ وَقِتَالهمْ فَحَرَام بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ ، وَإِنْ كَانُوا فَسَقَة ظَالِمِينَ.
“Adapun keluar dari ketaatan pada penguasa dan menyerang penguasa, maka itu adalah haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama, walaupun penguasa tersebut adalah fasik lagi zholim”  (Syarh Muslim, 12: 229).
Gara-gara tidak memahami akidah Ahlus Sunnah di atas, sebagian mahasiswa pun salah dalam bertindak ketika menyikapi penguasa yang zholim. Mereka sungguh lancang menggumbar aib penguasa di mimbar-mimbar dan tempat umum. Padahal yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tuntunkan adalah,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ لَهُ
Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati)” (HR. Ahmad 3: 403. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).
Di antara mahasiswa pun ada yang masih percaya dengan ramalan dan hal-hal yang berbau klenik, yang itu semua tidak bisa lepas dari syirik dan menunjukkan cacatnya tauhid. Dari sini menunjukkan bahwa perlu adanya pembinaan akidah dan prinsip beragama yang benar. Setelah akidah dan tauhid ini dibenarkan, yang tidak kalah penting adalah mempelajari ibadah yang harus dikerjakan setiap harinya seperti wudhu, shalat dan puasa. Begitu pula ditambah dengan cara bermuamalah dan berakhlak terhadap sesama tidak kalah penting untuk dikaji dan dipelajari.
Jangan Asal-Asalan Bertindak
Jika kita sudah mengetahui prinsip penting dalam beragama, maka setiap mahasiswa pun harus menyadari bahwa mereka tidak boleh asal-asalan dalam bertindak. Walaupun kadang hasil mereka nyata, namun kalau jalan yang ditempuh keliru, yah kita katakan keliru. Lihatlah kisah yang disebutkan Abu Hurairah berikut.
Abu Hurairah berkata bahwa beliau mengikuti perang Khoibar. Lantas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada orang yang mengaku membela Islam, “Ia nantinya penghuni neraka.” Tatkala orang tadi mengikuti peperangan, ia sangat bersemangat sekali dalam berjihad sampai banyak luka di sekujur tubuhnya. Melihat pemuda tersebut, sebagian orang menjadi ragu dengan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ternyata luka yang parah tadi membuatnya mengambil pedang dan membunuh dirinya sendiri. Akhirnya orang-orang pun berkata, “Wahai Rasulullah, Allah membenarkan apa yang engkau katakan.” Pemuda tadi ternyata membunuh dirinya sendiri. Rasul pun bersabda,
إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ
Berdirilah wahai fulan (yakni Bilal), serukanlah: Tidak akan masuk surga melainkan seorang mukmin. Allah mungkin saja menolong agama ini melalui laki-laki fajir (ahli maksiat).” (HR. Bukhari no. 3062 dan Muslim no. 111).
Coba kita renungkan kisah di atas. Orang tersebut memang benar memperjuangkan Islam, namun ia keliru dan salah jalan karena ia membunuh dirinya sendiri. Sehingga yang benar adalah tempuhlah jalan yang benar dalam memperjuangkan Islam dan akan diperoleh hasil yang sesuai harapan.
Tidak cukup bermodalkan semangat, segala tindakan itu butuh ilmu. Kata Imam Bukhari, “Ilmu itu sebelum berkata dan bertindak.” Wallahu waliyyut taufiq. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.