Mahasiswa Harus Berilmu Sebelum
Bertindak
By.
Mohammad nur siddiq keliwida.
Segala
puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita
Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kewajiban
belajar agama bukan hanya bagi mahasiswa yang duduk di Jurusan Syari’ah atau
yang belajar di Universitas Islamiyah. Mahasiswa teknik dan kedokteran serta
mahasiswa mana pun punya kewajiban yang sama. Ada kadar wajib dari ilmu agama
yang mesti setiap mahasiswa pelajari. Karena tidak adanya ilmu agama itulah
yang menyebabkan mahasiswa banyak yang salah jalan dan salah langkah. Akhirnya
ada yang asal berkoar, namun bagai tong kosong nyaring bunyinya dan
ujung-ujungnya tidak mendatangkan maslahat malah mengundang petaka.
Dasari Segalanya dengan Ilmu
Seorang
dokter misalnya tidak bisa mengobati pasien sembarangan, ia harus mendasarinya
dengan ilmu. Jika ia nekad, maka bisa berujung kematian pada pasien. Begitu
pula halnya dengan seorang muslim. Dalam beramal dan bertindak, ia harus
mendasari segalanya dengan ilmu. Imam Syafi’i berkata,
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Siapa
yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib
baginya pula memiliki ilmu.” (Dinukil dari Mughnil Muhtaj)
Ilmu
tidaklah diperoleh tiba-tiba layaknya ilmu laduni yang diyakini kaum sufi.
Namun ilmu itu diraih dengan belajar siang dan malam. Sebagaimana kata Ibnu
Syihab Az Zuhri, seorang ulama di masa tabi’in, di mana beliau berkata,
من رام العلم جملة ذهب عنه جملة وإنّما العلم
يطلب على مرّ الأيام واللّيالي
“Siapa
yang terburu-buru meraih ilmu dalam jumlah banyak sekaligus, maka akan hilang
dalam jumlah banyak pula. Yang namanya ilmu dicari siang demi siang dan malam
demi malam.” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab Al Jaami’)
Jika
seseorang tidak mendasari tindakannya dengan ilmu, ujung-ujungnya hanya
mendatangkan bencana. Sebagaimana kata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz,
مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا
يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
“Barangsiapa
beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak
daripada mendatangkan maslahat.” (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa Ibnu
Taimiyah, 2: 382)
Ilmu yang Diprioritaskan
Tentu
yang lebih diprioritaskan bagi setiap muslim untuk dipelajari adalah ilmu
akidah dan tauhid. Karena kaum muslimin -bahkan banyak dari mereka- yang tidak
mengetahui apa saja yang merusak akidah dan tauhidnya. Seperti akidahnya masih
bercampur dengan pemahaman penolak atau penta’wil sifat. Ketika ditanyakan
Allah di mana, jawabannya pun beraneka ragam. Padahal berbagai dalil sudah
menyebutkan bahwa Allah itu menetap tinggi di atas ‘Arsy seperti ayat,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“(Yaitu)
Rabb Yang Maha Pemurah. Yang beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy”
(QS. Thoha : 5). Sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam Al
Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah itu berada di
ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya. Dan sebagian mereka lagi mengatakan ada
300 dalil yang menunjukkan hal ini.
Imam
Asy Syafi’i berkata, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada
di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya
sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan
kehendak-Nya” (Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 165). Ini masalah besar
tentang Allah, namun banyak yang keliru menjawab pertanyaan tersebut dengan
mengatakan bahwa Allah di mana-mana atau ada yang mengatakan bahwa Allah di
dalam hati. Padahal ada perkataan keras dari Abu Hanifah, “Jika seseorang
amengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.” Beliau mengatakan demikian
setelah ada yang menyatakan bahwa ia tidak mengetahui di manakah Allah, di
langit ataukah di bumi (Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 135-136).
Begitu
pula sebagian mereka memahami bahwa sah-sah saja memberontak atau tidak taat
pada penguasa apalagi penguasa yang berbuat maksiat semacam korupsi. Padahal
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ
ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
“Dengarlah
dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil
hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).
Dalam
Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan mengenai hadits
di atas,
فتبين أن الإمام الذي يطاع هو من كان له سلطان
سواء كان عادلا أو ظالما
“Jelaslah
dari hadits tersebut, penguasa yang wajib ditaati adalah yang memiliki sulthon
(kekuasaan), baik penguasa tersebut adalah penguasa yang baik atau pun zholim”
Imam
Nawawi rahimahullah juga berkata,
وَأَمَّا الْخُرُوج عَلَيْهِمْ وَقِتَالهمْ
فَحَرَام بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ ، وَإِنْ كَانُوا فَسَقَة ظَالِمِينَ.
“Adapun
keluar dari ketaatan pada penguasa dan menyerang penguasa, maka itu adalah
haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama, walaupun penguasa tersebut
adalah fasik lagi zholim” (Syarh Muslim, 12: 229).
Gara-gara
tidak memahami akidah Ahlus Sunnah di atas, sebagian mahasiswa pun salah dalam
bertindak ketika menyikapi penguasa yang zholim. Mereka sungguh lancang
menggumbar aib penguasa di mimbar-mimbar dan tempat umum. Padahal yang Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam tuntunkan adalah,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ
فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ
فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ لَهُ
“Barangsiapa
yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia
tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa
(raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau
tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan
pahala baginya (orang yang menasihati)” (HR. Ahmad 3: 403. Syaikh Syu’aib
Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).
Di
antara mahasiswa pun ada yang masih percaya dengan ramalan dan hal-hal yang
berbau klenik, yang itu semua tidak bisa lepas dari syirik dan menunjukkan
cacatnya tauhid. Dari sini menunjukkan bahwa perlu adanya pembinaan akidah dan
prinsip beragama yang benar. Setelah akidah dan tauhid ini dibenarkan, yang
tidak kalah penting adalah mempelajari ibadah yang harus dikerjakan setiap
harinya seperti wudhu, shalat dan puasa. Begitu pula ditambah dengan cara
bermuamalah dan berakhlak terhadap sesama tidak kalah penting untuk dikaji dan
dipelajari.
Jangan Asal-Asalan Bertindak
Jika
kita sudah mengetahui prinsip penting dalam beragama, maka setiap mahasiswa pun
harus menyadari bahwa mereka tidak boleh asal-asalan dalam bertindak. Walaupun
kadang hasil mereka nyata, namun kalau jalan yang ditempuh keliru, yah
kita katakan keliru. Lihatlah kisah yang disebutkan Abu Hurairah berikut.
Abu
Hurairah berkata bahwa beliau mengikuti perang Khoibar. Lantas Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada orang yang mengaku membela Islam, “Ia
nantinya penghuni neraka.” Tatkala orang tadi mengikuti peperangan, ia
sangat bersemangat sekali dalam berjihad sampai banyak luka di sekujur
tubuhnya. Melihat pemuda tersebut, sebagian orang menjadi ragu dengan sabda
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ternyata luka yang parah tadi
membuatnya mengambil pedang dan membunuh dirinya sendiri. Akhirnya orang-orang
pun berkata, “Wahai Rasulullah, Allah membenarkan apa yang engkau katakan.”
Pemuda tadi ternyata membunuh dirinya sendiri. Rasul pun bersabda,
إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ
مُسْلِمَةٌ ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ
“Berdirilah
wahai fulan (yakni Bilal), serukanlah: Tidak akan masuk surga melainkan seorang
mukmin. Allah mungkin saja menolong agama ini melalui laki-laki fajir (ahli
maksiat).” (HR. Bukhari no. 3062 dan Muslim no. 111).
Coba
kita renungkan kisah di atas. Orang tersebut memang benar memperjuangkan Islam,
namun ia keliru dan salah jalan karena ia membunuh dirinya sendiri. Sehingga
yang benar adalah tempuhlah jalan yang benar dalam memperjuangkan Islam dan
akan diperoleh hasil yang sesuai harapan.
Tidak
cukup bermodalkan semangat, segala tindakan itu butuh ilmu. Kata Imam Bukhari,
“Ilmu itu sebelum berkata dan bertindak.” Wallahu waliyyut taufiq.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.